Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Berpulang

Berpulang Oleh: Septi Aisah Jemariku terlepas pada genggaman erat kehidupan Meletakan segala kesah juga resah Meninggalkan kasih dengan segala perih Pada retakan yang tak mungkin erat kembali Napasku saat itu tak lagi bersahut-sahutan Udara yang segar di kala mentari menamu Tidak dapat lagi terasa walau hanya untuk sekadar pulang Gelap, Pekat, Hitam tanpa warna dengan segala asing yang hadir Mengubah pelagi menjadi kelabu dalam kesunyiannya Juga cahaya jingganya yang tak dapat lagi terasa Bagaimana mungkin kita masih bisa bersama? Padahal jarak kita sudah sangat jauh Bersama takdir yang tak mungkin diubah Apalagi  memaksa waktu untuk kembali terulang Terima kasih untuk segala kasih tak berpamprih Terima kasih atas segala sayang yang harus terakhiri Terima kasih dengan segala tulus juga cinta yang tak pernah hangus Selamat tinggal, Detik ini Tuhanku telah memintaku untuk menemuinya Kembali membumi lalu melanjutkan hidup setelah segala drama di dunia

(Dirimu)-Dermaga Terbaik

Dirimu)-Dermaga Terbaik Kamu adalah tatap yang tak pernah menjadi tetap. Dengan langkah sederhana namun sulit untuk mengatur temu. Begitu juga rasa yang telah redam terarus waktu. Hingga terkahiri tanpa ada ucapan pamit. Pergilah jika jalan kita memang harus bertemu sampai saat ini. Biar kala yang mengumpat untuk kita bertakdir kembali. Kemudian akan kugayuh perahu itu untuk sekali lagi mendarat di dermaga hatimu. Masih bisakah kita melacak hati dengan tanpa sengaja pelabuhan terbaik adalah dirimu untukku kembali berlabuh. Menyisakan sedikit kenang hanya untuk tetap saling tenang. Kemudian  kau genggam jemariku yang dengan sengaja kubiarkan kosong, agar suatu saat kau kembali nanti, kita masih sama-sama menunggal untuk menyatu. -gp.septiaisah

Kembalilah, sayang

Kembalilah, sayang Kembalilah,kasih. Rupanya, tak lengkap rasanya jika harus memendam rasa sendiri tanpa ada genap di dalamnya. Kau tahu, bukan? Bukan diriku yang meminta pertemuan itu terjadi dan terbentuk rapi pada letak di ruang hati ini. Tapi, apakah yang lebih buruk dari perpisahan kala itu? Apakah pergimu setelah sekian purnama lalu itu belum cukup lama untuk kembali? Mari kita duduk berdua lalu membentuknya kembali. Menikmati secangkir kopi lalu memandang ombak di dermaga biru itu. Kau tahu, sayang? Bahagia rasanya jika retakan kenang kala itu tertutup rapi tanpa harus diungkit kembali. Tanpa harus menyertakan dia di dalamnya. Ya, ini tentang kita berdua.  Tapi, kenang ini terlanjur hilang, sayang. Kau yang dulu menghangatkan sewaktu rinai mendarat. Kau yang dulu menenangkan ketika pilu menamu. Kini hanya akan tersisa kenangan tanpa harus menjadi satu di dalamnya. Lalu kita akan menjelma asing dengan menempatkan diri masing-masing untuk saling jauh. #goresanpena #kembali #ja...