Postingan

Menggapai Surga Illahi

Menggapai Surga Illahi Oleh: Septi Aisah Asaku mengambang dalam kepiluan Alunan klimaks kata tak bisa melengkapi larik catatan kebaikan  Di sepanjang dermaga senja hanya nafsu yang terpapar  Tiada cahaya yang menerangi malam dalam kegelapan Wahai Tuhan Sang Pemilik Jiwa  Tumpahkanlah pelitamu untuk jiwaku yang gelap  Luruskanlah jalanku menggapai SurgaMu yang kekal  Dalam gujarat rasa ini tiada hari tanpa penyesalan  Segala hal mengambang dalam kedukaan  Untuk kali ini Tuhan,  Izinkan aku menggapai Pelitamu yang suci itu  Bantu aku mengalunkan jiwaku dalam ketakwaan  Terimalah tadahan tanganku yang kuangkat  dengan menyebut asmamu  Untuk menghapus semua gelap yang terikat dalam jiwaku  Pati; 3 Agustus 2020 Salam kenal  Ig : @gp.septiaisah112

Berpulang

Berpulang Oleh: Septi Aisah Jemariku terlepas pada genggaman erat kehidupan Meletakan segala kesah juga resah Meninggalkan kasih dengan segala perih Pada retakan yang tak mungkin erat kembali Napasku saat itu tak lagi bersahut-sahutan Udara yang segar di kala mentari menamu Tidak dapat lagi terasa walau hanya untuk sekadar pulang Gelap, Pekat, Hitam tanpa warna dengan segala asing yang hadir Mengubah pelagi menjadi kelabu dalam kesunyiannya Juga cahaya jingganya yang tak dapat lagi terasa Bagaimana mungkin kita masih bisa bersama? Padahal jarak kita sudah sangat jauh Bersama takdir yang tak mungkin diubah Apalagi  memaksa waktu untuk kembali terulang Terima kasih untuk segala kasih tak berpamprih Terima kasih atas segala sayang yang harus terakhiri Terima kasih dengan segala tulus juga cinta yang tak pernah hangus Selamat tinggal, Detik ini Tuhanku telah memintaku untuk menemuinya Kembali membumi lalu melanjutkan hidup setelah segala drama di dunia

(Dirimu)-Dermaga Terbaik

Dirimu)-Dermaga Terbaik Kamu adalah tatap yang tak pernah menjadi tetap. Dengan langkah sederhana namun sulit untuk mengatur temu. Begitu juga rasa yang telah redam terarus waktu. Hingga terkahiri tanpa ada ucapan pamit. Pergilah jika jalan kita memang harus bertemu sampai saat ini. Biar kala yang mengumpat untuk kita bertakdir kembali. Kemudian akan kugayuh perahu itu untuk sekali lagi mendarat di dermaga hatimu. Masih bisakah kita melacak hati dengan tanpa sengaja pelabuhan terbaik adalah dirimu untukku kembali berlabuh. Menyisakan sedikit kenang hanya untuk tetap saling tenang. Kemudian  kau genggam jemariku yang dengan sengaja kubiarkan kosong, agar suatu saat kau kembali nanti, kita masih sama-sama menunggal untuk menyatu. -gp.septiaisah

Kembalilah, sayang

Kembalilah, sayang Kembalilah,kasih. Rupanya, tak lengkap rasanya jika harus memendam rasa sendiri tanpa ada genap di dalamnya. Kau tahu, bukan? Bukan diriku yang meminta pertemuan itu terjadi dan terbentuk rapi pada letak di ruang hati ini. Tapi, apakah yang lebih buruk dari perpisahan kala itu? Apakah pergimu setelah sekian purnama lalu itu belum cukup lama untuk kembali? Mari kita duduk berdua lalu membentuknya kembali. Menikmati secangkir kopi lalu memandang ombak di dermaga biru itu. Kau tahu, sayang? Bahagia rasanya jika retakan kenang kala itu tertutup rapi tanpa harus diungkit kembali. Tanpa harus menyertakan dia di dalamnya. Ya, ini tentang kita berdua.  Tapi, kenang ini terlanjur hilang, sayang. Kau yang dulu menghangatkan sewaktu rinai mendarat. Kau yang dulu menenangkan ketika pilu menamu. Kini hanya akan tersisa kenangan tanpa harus menjadi satu di dalamnya. Lalu kita akan menjelma asing dengan menempatkan diri masing-masing untuk saling jauh. #goresanpena #kembali #ja...

Ini Bukan Hanya Sekadar Puisi

INI BUKAN HANYA SEKADAR PUISI Ini bukan hanya sekadar puisi, melainkan dengan diksi-diksinya yang membawaku pada lamunan bisu di ujung senja waktu itu. Bersama deraian Aksa yang saling memanah, namun hanya berakhir pada episode yang cukup menyayat jiwa dalam raga. Ini bukan hanya sekadar puisi, namun lantunan gagu yang ingin kusampaikan padamu  di sepenghujung senja di waktu yang sama ketika Aksa tak sanggup lagi untuk berkedip. Ini bukan hanya sekadar puisi, namun curahan  hati yang tersaksikan oleh Bagaskara jingga yang sanggup membuatku  terpana. Ini bukan hanya sekadar puisi, di iringinya rasa yang tak sanggup untuk saling mengungkap. Namun Atma yang tak sabar untuk seterusnya memiliki. Hingga terlahirlah kasih dalam diam, yang sampai kini tak lekas terbentuk komitmen. Septi Aisah 15 April 2020

Kekasihku Bukan Kamu

Kekasihku BukanKamu Karya: Septi Aisah Sekat jarak seolah menjadi penengah diantara hubungan kita Rindu yang menanah tak mampu lagi untuk tertahankan Ruang di antara kita tak akan bisa kembali menyatu Karena jarak yang semakin jauh, Menyadarkanku pada jiwa yang tak lagi bisa bersama Rinduku bukan kamu, Tetapi kenangan dalam anganku yang tak lekas hanyut Cerita dalam kisah kasih yang telah terenggut Oleh dia yang berhasil merenggut kekasihku Aku tak apa, Mungkin takdir Tuhan esok lebih baik darimu kini Akan ada udara selepas pelangi  Akan ada keabadian selepas kisah usai Dan tak akan ada lagi rindu tunggal selepas dia hadir Bumi Allah; 11 April 2020 Mari berteman❤️ FB : Septi Aisah Ig : @gp.septiaisah112 Twitter : @GSeptiaisah

Mimpi di Atas Bulan

Mimpi di Atas Bulan Karya: Septi Aisah  Bulan bergelayut di gulita malam Desahan angin menitihkan semangat para pejuang Mimpi bertabur usaha meluap dalam kalbu Ribuan harapan menjamur bersama mimpi yang terajut  Anganan tinggi terbang bersama burung sore ini Bersinggah abadi bersama Bulan di malam itu Menjadi saksi harapan  yang masih dipenuhi  para pejuang Menyisakan mimpi yang tertanam rapi di sela aksara  Di gulitanya malam yang masih menyisakan  mimpi dalam aksara Melilitkan harapan di sepenghujung malam  Aksaraku berlabuh di tatanan anganan yang tertanam  Dan menjadi saksi mimpiku bersama bulan di malam ini Bumi Allah; 10 April 2020 Cerita Cinta Baru Karya: Septi Aisah Hamparan laut membungkam ditepian pasir Bergejolak nyiur kelapa menari di pinggir laut Irama burung berkicau meluluhkan hati Ombak yang tenang menyisakan kenangan  yang telah usai  Pada sen...